Kamis, 31 Mei 2012

MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pengembangan sistem pembelajaran (instruksional) merupakan salah satu bentuk pembaharuan sistem instruksional yang banyak dilakukan dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan, dengan maksud agar sistem tersebut dapat lebih serasi dengan tuntutan kebutuhan masyarakat, serasi pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan utama meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses pembelajaran.
Namun demikian, pendekatan yang sistematis dalam kegiatan instruksional ini dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, dan dengan sebutan yang berbeda-beda pula. Sebutan itu di antaranya adalah: pengembangan instruksional, desain instruksional, pengembangan sistem instruksional, pengembangan program instruksional, pengembangan produk instruksional, pengembangan organisasi, dan pengembangan kemampuan mengajar. Tetapi istilah populer yang lazim digunakan adalah “pengembangan instruksional (pembelajaran), yang merupakan padanan dari istilah “instructional development”. Istilah yang disebutkan terakhir ini adalah merupakan istilah resmi yang dibakukan oleh organisasi profesi AECT (Association for Educational Communication and Technology) di Amerika Serikat.
Dalam operasionalnya pengembangan sistem intruksional ini dapat dilaksanakan untuk jangka pendek maupun jangka panjang; dapat dilaksanakan untuk satu topik sajian, satu periode latihan, satu semester, satu bidang studi, atau bahkan satu sistem yang lebih besar lagi.
Atas dasar itulah Gustafson (dalam Sadiman, 1986:13) membedakan adanya tingkatan atau level pengembangan sistem instruksional, yakni: (a) tingkatan kelas, (b) tingkatan sistem, (c) tingkatan produk, dan (d) tingkatan organisasi. Setiap tingkatan tersebut memiliki fungsi dan model-model yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.   
Di Indonesia, pengembangan sistem pembelajaran merupakan hal yang relatif baru. Pertama kali digunakan pada tahun 1972 oleh Badan Pengembangan Pendidikan (sekarang: Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan) dengan nama populernya PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional). Bahkan perguruan tinggi kita baru mengenal dan menggunakan model pengembangan sistem instruksional ini pada tahun 1976. Sejak saat itu pengembangan dan penggunaan model-model pengembangan sistem intruksional sangat berkembang pesat sampai saat ini. 

B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah:
a.       Bagaimanakah konsepsi dasar pengembangan sistem Instruksional?
b.      Apakah  prinsip dasar pengembangan Sistem Instruksional?
c.       Bagaimanakah tingkatan pengembangan sistem Instruksional?
d.      Bagaimanakah model-model pengembangan sistem instruksional?

C.    Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah:
a.       untuk mengetahui bagaimana konsepsi dasar pengembangan sistem instruksional;
b.      untuk mengetahui prinsip dasar pengembangan sistem instruksional;
c.       untuk mengetahui tingkatan pengembangan sistem instruksional;
d.      untuk mengetahui model-model pengembangan sistem instruksional

D.    Manfaat Pembahasan
Dari pembahasan makalah ini maka diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalam memahami pembahasan ini dan untuk menambah wawasan pembaca.


BAB II
PEMBAHASAN

A.            KONSEPSI DASAR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL
Ada banyak sekali konsepsi dasar tentang pengembangan sistem intruksional yang dapat kita jumpai dalam berbagai kepustakaan, yang rumusannya saling berbeda. Untuk memperoleh pengertian yang komprehensif, berikut ini diberikan beberapa konsepsi dasar yakni:
*      AECT (1979: 20) mendefenisikan sebagai berikut:
Pengembangan pembelajaran adalah suatu pendekatan yang sistematis dalam desain, produksi, evaluasi, dan pemanfaatan sistem pembelajaran yang lengkap termasuk komponen-komponennya dan contoh manajemen penggunaannya.
*      AETT (dalam Miarso, 1988: 8) mendefenisikan bahwa:
Pengembangan instruksional adalah pengembangan sumber-sumber belajar secara sistematik agar dapat terjadi perubahan perilaku.
*      Ely (1978: 4) mendefenisikan bahwa:
Pengembangan sistem instruksional adalah suatu proses secara sistematis dan logis untuk mempelajari problem-problem pengajaran, agar mendapatkan pemecahan yang teruji validitas dan praktis bisa dilaksanakan.

            Dari beberapa konsepsi dasar tentang pengembangan sistem instruksional, maka dapat ditarik kesimpulan. Pengembangan sistem pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang sistematis dalam menilai, mendeskripsikan, mengidentifikasi, mengembangkan serta menggunakan komponen-komponen sistem pembelajaran (peserta didik, tujuan, materi, media, metode, dan evaluasi) demi tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.


B.PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL
Sebagai bagian dari teknologi pendidikan, pengembangan sistem instruksional tentunya mempunyai prinsip dasar yang sama dengan teknologi pendidikan, yakni: berfokus pada siswa, menggunakan pendekatan sistem, dan berupaya memaksimalkan penggunaan berbagai sumber belajar.
Ø  Berfokus pada siswa
Prinsip ini memandang bahwa, dalam rangka penerapan pengembangan sistem instruksional, siswa adalah sentral kegiatan pembelajaran. Prinsip ini juga memandang bahwa dalam setiap proses pembelajaran, siswa hendaknya bertindak sebagai pihak yang aktif dan dibuat aktif. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa guru adalah pihak yang pasif. Keduanya harus bertindak aktif.
Ø  Pendekatan sistem
Prinsip ini memandang bahwa masalah belajar adalah suatu sistem. Maksudnya, penanganan terhadap satu komponen pembelajaran dalam rangka pelaksanaan pengembangan sistem instruksional harus pula mempertimbangkan integrasi komponen yang lain sehingga diperoleh efek yang sinergistik untuk memecahkan masalah-masalah belajar.
Ø  Pemanfaatan sumber belajar secara maksimal
Prinsip ini memandang bahwa semua komponen sumber belajar baik pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar harus dimanfaatkan secara luas dan maksimal dalam rangka memecahkan masalah-masalah belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. 

C.            TINGKATAN PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL
Beberapa tingkatan pengembangan sistem instruksianal dapat kita lihat sebagai berikut:
*      Tingkatan Sistem
Pengembangan sistem instruksianal tingkatan sistem ini dimaksudkan untuk menghasilkan sistem pembelajaran yang besar. Kegiatan biasanya berangkat dari nol, yakni tidak adanya sistem tersebut sampai dengan dihasilkannya suatu sistem. Kegiatan ini didahului dengan kegiatan awal yang mendalam dan menyeluruh, yang meliputi: analisis kebutuhan, analisis topik, serta analisi tugas. Kegiatan ini tidak hanya berbicara masalah pembelajaran saja tetapi juga masalah pendidikan secara keseluruhan. Masalah yang mendorong dilakukannya kegiatan ini bukan hanya sekedar masalah pembelajaran, melainkan keseluruhan sistem pendidikan dan latihan yang dihadapi oleh lembaga yang bersangkutan. Sedangkan sistem pendidikan/latihan yang menyeluruh itu meliputi masukan mentah (siswa/peserta), jumlah dan kualifikasinya; masukan instrumental (kurikulum/program, fasilitas, dana, dan lainnya); proses/pelaksanaan kegiatan pendidikan/latihan itu sendiri; serta hasil itu yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan. Oleh karena itu kegiatan ini melibatkan banyak orang terdiri dari ahli teknologi pembelajaran, ahli bidang studi, guru, dan sebagainya.
*      Tingkatan Kelas
Pengembangan sistem instruksianal tingkat kelas ini pada hakikatnya adalah merupakan penjabaran lebih lanjut dari pengembangan sistem instruksianal tingkatan sistem untuk dilaksanakan dalam tingkatan kelas. Dengan kata lain, pengembangan sistem instruksianal tingkatan kelas ini adalah identik dengan penyusunan persiapan mengajar oleh guru untuk satu atau lebih topik tertentu. Kegiatan awalnya sangat sederhana, biasanya berupa penilaian tingkat kemampuan awal siswa. Pada pengembangan sistem instruksianal tingkatan kelas ini diasumsikan bahwa kurikulum/program pembelajaran, fasilitas, siswa/peserta latihan, pengajar, dan sebagainya.
*      Tingkatan Produk
Tujuan pengembangan sistem instruksianal tingkatan produk ini adalah untuk memproduksi satu atau lebih produk pembelajaran tertentu. Oleh karena itu, kegiatan ini didahului dengan mengkaji masalah-masalah pembelajaran yang ada untuk mengetahui masukan yang diperlukan. Hasil kegiatan ini berupa paket pembelajaran seperti modul, media audiovisual, dan lain-lain bahan belajar yang bentuknya disesuaikan dengan karakteristiknya. 
*      Tingkatan Organisasi
Pengembangan sistem instruksianal tingkat organisasi ini dimaksudkan tidak hanya untuk meningkatkan pembelajaran, tetapi juga memodifikasi atau mengubah organisasi dan personil suatu lembaga atau organisasi ke situasi yang baru agar efektivitas dan efisiensi organisasi tersebut meningkat.
Kegiatan ini diawali dengan bertolak dari analisis pekerjaan, atau analisis isi ajaran. Analisis ini akan menghasilkan emat kemungkinan, yakni: (1) perlunya diklat khusus diluar pekerjaan karena ada sejumlah kemampuan yang belum dikuasai, (2) perlunya latihan dalam jabatan karena ada sejumlah kemampuan khusus yang harus dikuasai, (3) perlunya ada pengawasan dan pembinaan yang ketat dalam pelaksanaan pekerjaan karena dituntut adanya ketepatan perbuatan dalam suatu tugas.

D.            MODEL-MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL 
Model-model pengembangan sistem pembelajaran ini sangat beragam sesuai dengan tingkatan sistem, tingkatan hasil, tingkatan kelas maupun tingkatan organisasi. Oleh karena itu, dalam makalah ini pemakalah hanya menyajikan beberapa contoh model pengembangan sistem pembelajaran beserta langkah-langkahnya. Berikut ini akan diuraikan lebih lanjut model-model tersebut beserta langkah-langkahnya sebagai berikut:










§ 
Merevisi kegiatan instruksional
 
Model Dick and Carey sebagai berikut :
     

 














Gambar 1.1 Model Dick & Carey
(Diadaptasi dari Gagne, 1988: 22)

            Model ini terdiri dari 10 (sepuluh) langkah, yakni:
1.      Mengenali tujuan pengajaran.
2.      Melakukan analisa pengajaran.
3.      Mengenali tingkah laku masukan dan ciri-ciri siswa.
4.      Merumuskan tujuan performasi.
5.      Mengembangkan buti-butir tes acuan patokan.
6.      Mengembangkan siasat pengajaran.
7.      Mengembangkan dan memilih material pengajaran.
8.      Merancang dan melakukan penilaian formatif.
9.      Merevisi pengajaran.
10.  Melakukan penilaian sumatif.

§  Model PPSI sebagai berikut :



Gambar 1.2 Model PPSI
(Diadaptasi dari Kanwil P&K Prov. DIY (dalam Harjanto, 2006: 122)




            Model ini terdiri dari 5 (lima) langkah, yakni:
1.      Perumusan tujuan.
2.      Pengembangan alat evaluasi.
3.      Menentukan kegiatan belajar.
4.      Merencanakan program kegiatan.
5.      Melaksanakan program.

§  Model Bela H. Banathy sebagai berikut :
Gambar 1.3 Model Bela H. Banathy
(Diadaptasi dari Banathy, 1968)





            Model ini terdiri dari 6 (enam) langkah, yakni:
1.      Merumuskan tujuan.
2.      Mengembangkan tes.
3.      Menganalisis kegiatan belajar.
4.      Mendesain sistem instruksional.
5.      Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil.
6.      Mengadakan perbaikan.

BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
AETT (dalam Miarso, 1988: 8) mendefenisikan bahwa: Pengembangan instruksional adalah pengembangan sumber-sumber belajar secara sistematik agar dapat terjadi perubahan perilaku.
Pengembangan sistem pembelajaran adalah merupakan usaha yang sistematis dari teknologi pembelajaran untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Sadiman (1986: 12) menyatakan bahwa pengembangan pembelajaran adalah suatu usaha yang sistematis untuk menganalisis masalah, mengidentifikasi, memilih, merancang, dan menilai pemecahannya. Usaha tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan suatu desain sistem pembelajaran yang komplit, terarah, dan terkontrol untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jadi, pengembangan sistem pembelajaran adalah bagian dari teknologi pembelajaran.

B.     Saran
Untuk para pengembang sistem instruksional hendaknya dapat melakukan kegiatan pokoknya dengan baik, seperti :
a.       Menentukan hasil belajar dalam arti prestasi siswa yang bisa diamati dan diukur.
b.      Menentukan media untuk kegiatan tersebut.
c.       Menentukan metode dan memonitori responsi siswa sewaktu berada dalam proses pengajaran dan sewaktu dievaluasi.
d.      Mengadakan perbaikan dalam kegiatan belajar mengajar bila ternyata responsi siswa tidak sesuai dengan hasil yang telah ditentukan.




DAFTAR PUSTAKA

            AECT. (1979). The defenitions of educational technology. Washington.
Banathy. (1968). Instruction system. Belmond: Fearon.
Gagne. (1988). Prinsiples of instruction design, third edition. New York: Rinehart and Winston.
Harjanto. (2006). Perencanaan pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
            Miarso. (1988). Survey model pengembangan instruksional. Jakarta: PAU-UT.
            Sadiman. (1986). Media pendidikan. Jakarta: Pustekkom Dikbud.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar